Banyak Kota yang Indah, Tapi Tetap Saja Kangen Jogja juga lahir dari cara kota ini memperlakukan mereka yang sedang berjuang. Tidak semua cerita di Jogja berjalan mulus. Ada mahasiswa yang hidup sangat hemat, ada yang harus bekerja sambil kuliah, bahkan ada yang sempat tidak punya tempat tinggal tetap. Dalam kondisi seperti itu, Jogja tidak menghakimi. Kota ini justru membuka ruang-ruang sunyi yang sering luput dari perhatian. Masjid menjadi salah satu tempat paling bermakna bagi sebagian mahasiswa. Bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat bertahan hidup. Ada masjid yang dengan sadar membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menjadi marbot—menjaga kebersihan, mengumandangkan adzan, mengurus keperluan masjid—sebagai gantinya mereka diberi tempat tinggal sederhana dan kebutuhan dasar. Tidak mewah, tapi cukup untuk membuat seseorang bisa tetap kuliah dan bertahan. Dari tempat itulah banyak orang belajar tentang keikhlasan, tanggung jawab, dan arti saling menolong tanpa banyak bicara. Di Jogja, kampus bukan sekadar institusi pendidikan. Ia menjadi ruang perjumpaan berbagai latar belakang dan cerita hidup. Di ruang kelas, perpustakaan, hingga teras fakultas, mahasiswa belajar lebih dari sekadar teori. Mereka belajar mendengar, menghargai perbedaan, dan hidup berdampingan. Jogja tidak menuntut semua orang menjadi sama, justru mengajarkan cara hidup bersama dalam kesederhanaan. Banyak Kota yang Indah, Tapi Tetap Saja Kangen Jogja karena di kota ini, manusia tidak dipercepat untuk menjadi “berhasil”. Jogja memberi waktu. Memberi jeda. Memberi kesempatan untuk salah, lalu belajar lagi. Ritme hidupnya tidak tergesa-gesa, seolah mengingatkan bahwa hidup bukan perlombaan, melainkan perjalanan yang perlu dijalani dengan sadar. Baca juga: Dulu waktu masih di jogja cerita yang tak pernah pudar Keramahan warga Jogja adalah hal lain yang sulit dicari penggantinya. Sapaan kecil di jalan, senyum yang tulus, dan kesediaan membantu tanpa pamrih adalah bagian dari keseharian. Bertanya alamat bisa berujung obrolan panjang. Kesulitan kecil sering kali disambut dengan bantuan yang tidak diminta. Semua terasa alami, tidak dibuat-buat, dan itulah yang membuatnya membekas. Bagi mereka yang pernah tinggal lama, Jogja bukan sekadar kota persinggahan. Ia menjadi ruang pembentukan karakter. Tempat seseorang belajar hidup dengan cukup, bukan berlebihan. Belajar menghargai hal-hal kecil—sepiring makan sederhana, obrolan tanpa agenda, dan rasa aman yang tidak bisa diukur dengan materi. Ketika akhirnya harus pergi, banyak orang baru menyadari satu hal: rindu itu muncul bukan karena Jogja paling sempurna, tetapi karena ia paling manusiawi. Kota lain mungkin menawarkan fasilitas lebih lengkap, peluang lebih besar, dan kehidupan yang lebih cepat. Namun Jogja menawarkan sesuatu yang berbeda—rasa diterima. Banyak Kota yang Indah, Tapi Tetap Saja Kangen Jogja karena kota ini pernah menjadi saksi masa-masa paling jujur dalam hidup seseorang. Masa belajar, masa kekurangan, masa bertumbuh, dan masa mengenal diri sendiri. Jogja menyimpan semua itu tanpa mengklaim apa pun. Dan mungkin, itulah sebabnya nama Jogja selalu disebut dengan nada pelan. Bukan dengan teriak, tapi dengan rindu yang dalam. Karena bagi banyak orang, Jogja bukan hanya tempat tinggal di masa lalu—ia adalah bagian dari diri yang tak pernah benar-benar ditinggalkan. Pada akhirnya, banyak kota yang indah, tapi tetap saja kangen Jogja bukanlah ungkapan berlebihan. Ia lahir dari pengalaman hidup yang sederhana namun membekas. Jogja mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kemewahan, melainkan dari rasa diterima apa adanya. Dari angkringan yang jujur, kos-kosan yang hangat, masjid yang memberi ruang bertahan, hingga warga yang ringan tangan—semua membentuk ingatan yang sulit tergantikan. Maka ketika jarak memisahkan dan waktu berjalan semakin jauh, rindu itu muncul dengan caranya sendiri. Bukan rindu pada tempat semata, tetapi pada suasana hidup yang pernah terasa utuh. Jogja mungkin tidak selalu menjanjikan segalanya, namun ia memberi cukup untuk bertumbuh. Dan bagi siapa pun yang pernah merasakannya, Jogja akan selalu menjadi kota yang ingin dikunjungi kembali—jika tidak dengan langkah, setidaknya dengan ingatan.
Profil Ustadz Muhammad Jazir ASP
Penggerak Dakwah Akar Rumput dan Arsitek Masjid Jogokariyan sebagai Pusat Pemberdayaan Umat Yogyakarta dan jejaring dakwah Indonesia berduka. Ustadz Muhammad Jazir ASP, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Yogyakarta sekaligus Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jogokariyan, wafat pada Senin, 22 Desember 2025. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi jamaah Masjid Jogokariyan, tetapi juga bagi Muhammadiyah dan gerakan masjid di Indonesia. Selama puluhan tahun, Ustadz Jazir dikenal sebagai figur sentral dakwah berbasis masjid yang konsisten memperjuangkan peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, sekaligus pemberdayaan sosial-ekonomi umat. Latar Belakang dan Masa Awal Kehidupan Muhammad Jazir ASP lahir di Yogyakarta pada 28 Oktober 1962. Ia tumbuh dalam lingkungan religius dan masjid yang kuat. Ayahnya merupakan imam pertama Masjid Jogokariyan, menjadikan dunia kemasjidan sebagai ruang hidup yang akrab sejak masa kanak-kanak. Sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, Jazir telah aktif membantu aktivitas masjid. Pada usia 10 tahun, ia dipercaya menjadi ketua pengajian anak-anak di sebuah langgar kecil di kawasan selatan Yogyakarta. Empat tahun kemudian, ia memimpin remaja masjid. Pengalaman-pengalaman awal ini membentuk karakter kepemimpinannya: membumi, egaliter, dan berorientasi pelayanan jamaah. Pendidikan dan Pembentukan Gagasan Dakwah Dalam menempuh pendidikan formal, Jazir memperdalam ilmu keislaman dan pemikiran sosial. Ia tercatat sebagai mahasiswa di: Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Kombinasi latar belakang keagamaan dan hukum ini memberi fondasi kuat bagi cara pandangnya tentang keadilan sosial, tata kelola kelembagaan, dan peran masjid dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pengalaman penting yang membentuk gagasannya adalah kunjungan pendidikan Al-Qur’an ke Malaysia. Di sana, ia menyaksikan langsung bagaimana imam dan pengurus masjid berfungsi sebagai rujukan sosial masyarakat—tidak hanya memimpin ibadah, tetapi juga menyelesaikan persoalan warga. Model inilah yang kemudian ia adaptasi dan kembangkan di Jogokariyan. Demokratisasi Kepemimpinan Masjid Pada era 1990-an, ketika pergantian kepemimpinan takmir masjid lazim dilakukan secara aklamasi atau penunjukan internal, Jazir mengambil langkah berani. Ia menolak pola lama dan mendorong agar ketua takmir dipilih langsung oleh jamaah secara terbuka. Gagasan ini terwujud pada 1999, ketika Masjid Jogokariyan menyelenggarakan pemilihan ketua takmir secara demokratis. Jazir terpilih sebagai ketua, dan peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah pengelolaan masjid di Jogokariyan, bahkan menginspirasi masjid-masjid lain di berbagai daerah. Konsep Saldo Masjid Nol Nama Ustadz Jazir semakin dikenal luas lewat gagasannya yang fenomenal: konsep “saldo masjid nol”. Berbeda dengan praktik umum yang menganggap besarnya saldo sebagai indikator kemakmuran masjid, Jazir justru meyakini bahwa dana masjid harus segera kembali kepada jamaah. Infak dan sedekah tidak dibiarkan mengendap, tetapi dialirkan untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat. Baginya, masjid adalah energi sosial: menghimpun dana dari jamaah, lalu mengembalikannya kepada jamaah dalam bentuk kebermanfaatan nyata. Baca juga: Khitanan masal gratis Program Ikonik dan Pemberdayaan Jamaah Di bawah kepemimpinan Ustadz Jazir, Masjid Jogokariyan menjelma menjadi laboratorium dakwah sosial. Berbagai program lahir dan berkembang, antara lain: ATM Beras, layanan beras gratis berbasis kartu bagi jamaah dhuafa Wakaf produktif, termasuk sawah wakaf untuk ketahanan pangan jamaah Pasar Sore Ramadan, ruang ekonomi rakyat yang hidup selama bulan suci Angkringan jamaah, peci batik Jogokariyan, usaha katering, dan unit UMKM masjid Layanan kesehatan dan poliklinik berbasis masjid Semua program tersebut diarahkan untuk menguatkan kemandirian ekonomi jamaah, bukan sekadar bantuan karitatif. Salah satu pernyataannya yang kerap dikutip mencerminkan ketegasan sikapnya: “Tidak mengajak memberi makan orang miskin itu mendustakan agama. Masjidnya bagus, ada tetangga tidak punya beras, tidak peduli. Itu bukan masjid, itu candi.” Peran Organisasi dan Kiprah Nasional Selain aktif di Masjid Jogokariyan, Ustadz Jazir juga terlibat dalam berbagai lembaga dan organisasi, di antaranya: Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokariyan Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Jogokariyan Anggota Komisi Dakwah MUI DIY Tim Ahli Pusat Studi Pancasila UGM Wakil Ketua Pengarah AYODYA Presiden Direktur BKPAKSI Jejaring dan kiprahnya membuat Masjid Jogokariyan dikenal secara nasional sebagai model masjid peradaban. Wafat dan Warisan Keteladanan Ustadz Muhammad Jazir ASP wafat pada Senin, 22 Desember 2025, di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Jenazah disemayamkan di Masjid Jogokariyan, dimandikan dan dishalatkan di tempat yang menjadi pusat pengabdiannya, sebelum dimakamkan usai salat Zuhur. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengenang almarhum sebagai kader istimewa yang gigih, istiqamah, dan konsisten menggerakkan dakwah berbasis masjid. Menurutnya, dedikasi Ustadz Jazir mencerminkan misi Muhammadiyah dalam menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat dan transformasi sosial. Meski telah berpulang, warisan pemikiran, sistem pengelolaan masjid, dan semangat keberpihakan kepada kaum lemah yang ditinggalkan Ustadz Muhammad Jazir ASP diyakini akan terus hidup dan menginspirasi generasi penerus. Masjid Jogokariyan hari ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan jejak panjang pengabdian seorang dai yang menjadikan masjid sebagai rumah bagi umat.
Selain Gudeg, Ini 10 Kuliner Tradisional Jogja yang Mulai Langka
Ketika berbicara tentang kuliner Jogja, nama gudeg hampir selalu menjadi jawaban pertama. Manis, legit, dan sarat makna budaya, gudeg telah menjelma menjadi ikon kuliner Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun di balik popularitas gudeg yang mendunia, Jogja sesungguhnya menyimpan kekayaan kuliner tradisional lain yang tak kalah bersejarah. Sayangnya, sebagian dari makanan tersebut kini mulai jarang ditemui, bahkan terancam hilang dari ingatan generasi muda. Perubahan pola konsumsi, masuknya makanan instan dan modern, serta berkurangnya jumlah perajin makanan tradisional membuat sejumlah kuliner khas Jogja perlahan tersisih. Padahal, makanan-makanan ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan bagian dari identitas sosial, budaya, dan sejarah masyarakatnya. Berikut sepuluh kuliner tradisional Jogja selain gudeg yang kini semakin langka, namun menyimpan cerita panjang dan nilai penting yang layak dijaga. 1. Kipo, Camilan Keraton dari Kotagede Kipo adalah jajanan mungil khas Kotagede yang terbuat dari tepung ketan dengan isian unti kelapa dan gula jawa. Dibungkus daun pisang lalu dipanggang di atas anglo, kipo memiliki aroma khas yang sulit ditiru jajanan modern. Konon, nama “kipo” berasal dari ungkapan “iki opo?” (ini apa?) yang diucapkan tamu keraton saat pertama kali mencicipinya. Dulu, kipo menjadi sajian istimewa di lingkungan Keraton Mataram Islam. Kini, pembuat kipo bisa dihitung dengan jari. Prosesnya yang rumit, daya tahan yang singkat, serta minat pasar yang terbatas membuat kipo hanya bertahan lewat segelintir produsen legendaris di Kotagede. 2. Mie Lethek, Jejak Singkong dari Bantul Berbeda dengan mie pada umumnya, mie lethek dibuat dari tepung singkong atau gaplek. Warna kecokelatannya yang kusam membuatnya disebut “lethek”, yang dalam bahasa Jawa berarti kotor. Meski tampil sederhana, mie ini menyimpan filosofi ketahanan pangan masyarakat pedesaan Jogja. Proses pembuatan mie lethek masih dilakukan secara tradisional, mulai dari pengolahan singkong hingga pengeringan alami. Sayangnya, proses yang panjang dan kalah bersaing dengan mie instan membuat jumlah produsen mie lethek terus menurun. Kini, mie lethek lebih sering hadir sebagai kuliner nostalgia atau sajian khusus wisatawan. 3. Gatot dan Tiwul, Pangan Pokok yang Terpinggirkan Gatot dan tiwul adalah makanan berbahan dasar singkong yang dahulu menjadi makanan pokok masyarakat Gunungkidul, terutama pada masa paceklik. Tiwul dibuat dari tepung gaplek yang dikukus, sementara gatot berupa potongan singkong kering yang dimasak hingga empuk. Seiring meningkatnya konsumsi beras dan makanan berbasis gandum, gatot dan tiwul perlahan tersingkir dari meja makan sehari-hari. Kini, keduanya lebih sering muncul dalam acara budaya, festival pangan lokal, atau dijual di pasar tertentu sebagai simbol ketahanan pangan masa lalu. 4. Tempe Benguk, Warisan Kulon Progo Tempe benguk dibuat dari kacang benguk atau koro benguk, berbeda dari tempe kedelai yang umum dikonsumsi. Rasanya khas, teksturnya padat, dan aromanya lebih kuat. Dulu, tempe benguk menjadi sumber protein penting bagi masyarakat Kulon Progo. Namun, semakin sedikitnya petani yang menanam kacang benguk membuat produksi tempe ini menurun drastis. Proses pengolahan yang lebih rumit juga membuat generasi muda enggan meneruskannya. Tempe benguk kini bertahan lewat upaya komunitas pangan lokal dan UMKM yang peduli pada kuliner tradisional. 5. Sagon, Kue Kelapa yang Mulai Terlupakan Sagon adalah kue tradisional berbahan kelapa parut dan tepung ketan yang dipanggang hingga kering. Dahulu, sagon kerap dijadikan oleh-oleh khas Jogja, terutama dari daerah Bantul dan Gunungkidul. Kini, sagon kalah pamor dari kue modern yang lebih variatif dan menarik secara visual. Proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan membuat banyak perajin berhenti memproduksinya. Hanya beberapa produsen legendaris yang masih setia menjaga resep dan cara pembuatannya. Baca juga: Wisata rasa menjelajahi kuliner legendaris jogja 6. Growol, Identitas Kulon Progo yang Kian Langka Growol adalah makanan berbahan singkong yang difermentasi dan dikukus, memiliki rasa khas yang unik. Makanan ini dulu menjadi pengganti nasi bagi masyarakat Kulon Progo. Perubahan selera dan menurunnya konsumsi singkong membuat growol jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Kini, growol lebih sering diangkat sebagai ikon pangan lokal dalam program ketahanan pangan dan festival budaya, bukan sebagai makanan pokok. 7. Bolu Emprit, Jajanan Pasar yang Menghilang Bolu emprit adalah kue tradisional yang dulu mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional Jogja. Teksturnya lembut dengan rasa manis sederhana, cocok disantap sebagai teman minum teh. Sayangnya, bolu emprit kini semakin jarang dijumpai. Masuknya cake modern dan jajanan pabrikan membuat kue tradisional seperti bolu emprit tersisih. Minimnya dokumentasi resep juga menjadi ancaman serius bagi keberlanjutannya. 8. Jemblem atau Cemplon, Gorengan Singkong Klasik Jemblem—dikenal juga sebagai cemplon—adalah gorengan singkong dengan isian gula merah cair. Dahulu, jajanan ini menjadi favorit di pasar tradisional dan mudah ditemui di pagi hari. Kini, jemblem mulai kalah saing dengan gorengan modern dan camilan kekinian. Perubahan pola belanja masyarakat dari pasar tradisional ke minimarket turut mempercepat kelangkaannya. 9. Brongkos, Masakan Berbumbu Dalam Khas Jogja Brongkos adalah masakan berkuah gelap berbumbu kluwek, mirip rawon, namun dengan ciri khas Jogja. Isinya beragam, mulai dari daging, tahu, hingga kacang tolo. Proses memasak brongkos membutuhkan kesabaran dan pemahaman bumbu yang mendalam. Kompleksitas inilah yang membuatnya jarang dimasak di rumah tangga modern. Brongkos kini lebih sering ditemukan di warung-warung tua yang mempertahankan resep keluarga. 10. Roti Kembang Waru, Jejak Sejarah Kotagede Roti kembang waru adalah roti tradisional berbentuk bunga yang identik dengan Kotagede. Dahulu, roti ini sering disajikan dalam acara adat dan hajatan. Saat ini, roti kembang waru hanya diproduksi oleh segelintir pembuat. Kehadiran roti modern dan bakery besar membuat roti tradisional ini semakin sulit bersaing, meski nilai sejarah dan budayanya sangat tinggi. Menjaga Rasa, Merawat Identitas Kuliner tradisional Jogja yang mulai langka ini adalah pengingat bahwa makanan bukan sekadar urusan rasa, tetapi juga soal identitas dan ingatan kolektif. Melestarikannya berarti menjaga cerita, nilai, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi. Dengan memilih membeli, mencicipi, dan mengenalkan kembali kuliner-kuliner ini kepada generasi muda, masyarakat turut berperan menjaga warisan rasa Jogja agar tidak hilang ditelan zaman.
15 Wisata Edukasi di Jogja yang Seru dan Mendidik
Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota budaya dan pelajar, tetapi juga sebagai destinasi wisata edukasi yang lengkap dan ramah untuk semua usia. Dari museum sejarah, pusat sains, kebun binatang, hingga desa wisata berbasis budaya, Jogja menawarkan banyak pilihan liburan yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga menambah wawasan. Tidak heran jika kota ini menjadi tujuan favorit untuk liburan keluarga maupun study tour sekolah. Berikut ini adalah rekomendasi 15 wisata edukasi di Jogja yang seru dan mendidik, cocok untuk anak-anak, pelajar, hingga wisatawan dewasa yang ingin liburan sambil belajar. 1. Taman Pintar Yogyakarta Taman Pintar Yogyakarta merupakan ikon wisata edukasi di Jogja yang paling populer. Tempat ini menghadirkan konsep belajar sains melalui permainan interaktif, sehingga anak-anak bisa belajar tanpa merasa bosan. Di dalamnya terdapat berbagai zona edukasi seperti Gedung Oval dan Kotak, Planetarium, Dino Adventure, hingga wahana kreativitas. Pengunjung bisa belajar tentang fisika, biologi, teknologi, dan lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Alamat: Jl. Panembahan Senopati No.1–3, Ngupasan, Gondomanan, YogyakartaHarga tiket: Mulai Rp12.000 hingga Rp25.000 (tergantung wahana)Jam buka: 08.30–16.00 WIB 2. Monumen Yogya Kembali (Monjali) Monumen Yogya Kembali atau Monjali adalah wisata edukasi sejarah yang sangat cocok untuk pelajar. Museum ini menyimpan diorama perjuangan bangsa Indonesia, khususnya peristiwa kembalinya Yogyakarta sebagai ibu kota Republik Indonesia. Bangunan berbentuk kerucut ini juga memiliki relief sejarah dan ruang koleksi yang informatif. Selain belajar sejarah, pengunjung juga bisa menikmati suasana taman yang luas di sekitarnya. Alamat: Jl. Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Ngaglik, SlemanHarga tiket: Rp15.000 per orangJam buka: 08.00–16.00 WIB (Selasa–Minggu) 3. Gembira Loka Zoo Gembira Loka Zoo adalah kebun binatang terbesar di Yogyakarta yang berfungsi sebagai sarana konservasi sekaligus edukasi. Anak-anak dapat mengenal berbagai jenis satwa dari Indonesia maupun mancanegara secara langsung. Selain melihat hewan, pengunjung juga bisa mengikuti program edukasi satwa, memberi makan hewan tertentu, serta menikmati wahana permainan dan perahu. Alamat: Jl. Kebun Raya No.2, Rejowinangun, Kotagede, Kota YogyakartaHarga tiket: Sekitar Rp60.000–Rp75.000Jam buka: 07.30–17.00 WIB 4. Museum Batik Yogyakarta Museum Batik Yogyakarta menjadi tempat yang tepat untuk belajar tentang warisan budaya Indonesia. Museum ini menyimpan ribuan koleksi batik dari berbagai daerah dengan motif dan filosofi yang berbeda. Pengunjung juga bisa mengikuti workshop membatik, sehingga tidak hanya melihat koleksi, tetapi juga mencoba langsung proses pembuatan batik. Alamat: Jl. Dr. Sutomo No.13A, Bausasran, Danurejan, YogyakartaHarga tiket: Rp20.000–Rp30.000Jam buka: 09.00–15.00 WIB 5. Museum Benteng Vredeburg Museum Benteng Vredeburg merupakan museum sejarah nasional yang menampilkan diorama perjalanan bangsa Indonesia dari masa kolonial hingga pasca-kemerdekaan. Lokasinya sangat strategis karena berada di kawasan Malioboro, sehingga sering menjadi tujuan wisata edukasi pelajar dan wisatawan umum. 📍 Alamat:Jl. Jenderal Ahmad Yani No.6, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta 🎟️ Harga Tiket: Dewasa: Rp 5.000 Pelajar/Mahasiswa: Rp 3.000 Anak-anak: Rp 2.000 🚗 Parkir:Tersedia area parkir motor dan mobil di sekitar kawasan Malioboro serta kantong parkir khusus (parkir Abu Bakar Ali dan sekitarnya). Bus pariwisata biasanya parkir di area yang telah ditentukan oleh pengelola kawasan Malioboro. 6. Museum Dirgantara Mandala Museum Dirgantara Mandala adalah wisata edukasi yang mengenalkan sejarah dunia penerbangan Indonesia dan TNI Angkatan Udara. Di sini pengunjung bisa melihat langsung koleksi pesawat tempur, helikopter, serta berbagai diorama dan peralatan dirgantara. 📍 Alamat:Kompleks Pangkalan TNI AU Adisutjipto, Jl. Janti, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta 🎟️ Harga Tiket: Umum: Rp 6.000 – Rp 10.000 per orang Rombongan pelajar biasanya mendapat tarif khusus 🚗 Parkir:Area parkir sangat luas dan memadai untuk motor, mobil, hingga bus pariwisata karena berada di dalam kompleks militer. Keamanan parkir cukup terjamin. 7. Museum Ullen Sentalu Museum Ullen Sentalu merupakan museum budaya Jawa yang terkenal dengan konsep penyajian cerita sejarah kerajaan Mataram secara mendalam dan eksklusif. Museum ini sangat cocok untuk wisata edukasi budaya, sejarah, dan seni, terutama bagi pelajar SMP hingga dewasa. 📍 Alamat:Jl. Boyong No.KM 25, Kaliurang Barat, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta 🎟️ Harga Tiket: Dewasa: sekitar Rp 50.000 Anak-anak: sekitar Rp 30.000(Tiket sudah termasuk pemandu museum) 🚗 Parkir:Tersedia area parkir resmi untuk motor dan mobil. Untuk bus pariwisata biasanya diarahkan ke area parkir khusus di sekitar kawasan Kaliurang. 8. Desa Wisata Kasongan Desa Wisata Kasongan terkenal sebagai sentra kerajinan gerabah di Jogja. Wisatawan bisa belajar proses pembuatan keramik secara langsung, mulai dari membentuk tanah liat hingga proses pembakaran. Tempat ini sering dijadikan tujuan wisata edukasi budaya dan ekonomi kreatif untuk pelajar. 📍 Alamat:Desa Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta 🎟️ Harga Tiket: Masuk kawasan: Gratis Aktivitas workshop membuat gerabah: mulai Rp 25.000 – Rp 75.000 (tergantung paket & jumlah peserta) 🚗 Parkir:Tersedia area parkir motor dan mobil di sepanjang kawasan sentra gerabah. Beberapa showroom besar menyediakan parkir luas dan bisa menampung bus pariwisata. 9. Desa Wisata Pentingsari Desa Wisata Pentingsari menawarkan konsep wisata edukasi berbasis alam dan budaya pedesaan. Pengunjung bisa belajar bertani, mengenal lingkungan, bermain permainan tradisional, hingga mengikuti kesenian lokal. Tempat ini sangat populer untuk kegiatan live in dan study tour sekolah. 📍 Alamat:Jl. Pentingsari, Umbulharjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta 🎟️ Harga Tiket: Tiket masuk kawasan: sekitar Rp 15.000 – Rp 20.000 Paket edukasi & outbound: mulai Rp 50.000 – Rp 150.000 per orang (tergantung program) 🚗 Parkir:Area parkir tersedia untuk motor dan mobil. Untuk rombongan besar dan bus pariwisata biasanya diarahkan ke kantong parkir desa yang sudah disiapkan pengelola. Baca juga: Rekomendasi wisata edukasi di jogja untuk sekolah keluarga 10. Agrowisata Bhumi Merapi Agrowisata Bhumi Merapi adalah wisata edukasi yang menggabungkan pertanian, peternakan, dan rekreasi. Anak-anak dapat belajar memberi makan hewan, mengenal tanaman, hingga berinteraksi langsung dengan lingkungan alam. Tempat ini sangat cocok untuk wisata keluarga dan kunjungan sekolah tingkat TK hingga SMP. 📍 Alamat:Jl. Kaliurang Km 20, Sawungan, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta 🎟️ Harga Tiket: Tiket masuk: sekitar Rp 30.000 – Rp 35.000 per orang Beberapa wahana & foto spot dikenakan biaya tambahan 🚗 Parkir:Area parkir cukup luas untuk motor dan mobil. Bus pariwisata juga bisa masuk dan parkir di area yang telah disediakan. 11. Merapi Park Yogyakarta Merapi Park merupakan wisata edukasi yang menampilkan miniatur landmark dunia seperti Menara Eiffel, Big Ben, hingga Patung Liberty. Selain wisata foto, tempat ini juga cocok untuk edukasi geografi dan budaya global bagi anak-anak dan pelajar. 📍 Alamat:Jl. Kaliurang Km 22, Banteng, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta 🎟️ Harga Tiket:
Khitanan Masal Gratis
Kabar baik hadir di penghujung tahun 2025. RSIY PDHI Peduli kembali menghadirkan Program Khitan Massal Gratis sebagai bagian dari agenda besar Rangkaian Khitan 1000 Anak. Program ini ditujukan untuk membantu para orang tua, khususnya keluarga yang membutuhkan, agar putra-putra tercinta dapat menjalani khitan dengan aman, nyaman, dan ditangani langsung oleh tenaga medis profesional. Lebih dari sekadar layanan kesehatan, kegiatan khitan massal ini merupakan wujud komitmen RSIY PDHI Peduli dalam menyiapkan generasi penerus yang sehat, kuat, dan berdaya. Suasana yang ramah anak, pendampingan yang menenangkan, serta berbagai fasilitas pendukung dihadirkan agar anak-anak merasa lebih percaya diri dan orang tua merasa tenang. Pelaksanaan Bertahap di Tiga Lokasi Pada tahun 2025, Program Khitan Massal RSIY PDHI Peduli akan dilaksanakan secara bertahap di tiga lokasi berbeda dengan total kuota 225 anak. Berikut rincian jadwalnya: 📅 Sabtu, 20 Desember 2025 📍 Gedung Pertemuan KH Sunardi Syahuri, Komplek RS Islam Yogyakarta PDHI🤝 Kerja sama RSIY PDHI Peduli bersama Pamella Swalayan👦 Kuota: 75 anak Hari pertama pelaksanaan akan berlangsung meriah berkat kolaborasi dengan Pamella Swalayan. Dukungan mitra ini memberikan nilai tambah, mulai dari kelancaran teknis kegiatan hingga pemberian souvenir yang membuat anak-anak lebih ceria menjalani proses khitan. 📅 Minggu, 21 Desember 2025 📍 Gedung Pertemuan KH Sunardi Syahuri, Komplek RS Islam Yogyakarta PDHI🏥 Penyelenggara: RSIY PDHI Peduli👦 Kuota: 100 anak Baca juga: Masjid jogokariyan masjid kampung yang menjadi ikon nasional Gelombang kedua menjadi pelaksanaan dengan kuota terbesar. Tingginya antusiasme masyarakat menjadikan hari ini sebagai salah satu momen paling dinanti. Kegiatan dikemas dengan suasana yang hangat, edukatif, dan tetap mengutamakan kenyamanan anak. 📅 Sabtu, 27 Desember 2025 📍 Klinik Utama Rawat Inap PDHI, Logandeng, Siyono, Gunungkidul👦 Kuota: 50 anak Pelaksanaan terakhir diselenggarakan di wilayah Gunungkidul agar masyarakat setempat lebih mudah mengakses layanan khitan gratis. Meski kuota terbatas, standar pelayanan medis dan pendekatan ramah anak tetap menjadi prioritas utama. 🎁 Fasilitas yang Diterima Peserta Setiap anak yang mengikuti program ini akan memperoleh fasilitas lengkap, antara lain: Sarung Celana khitan Obat-obatan pasca tindakan Tote bag dan snack Pendampingan langsung oleh tenaga medis profesional Seluruh fasilitas diberikan gratis, sebagai bentuk kepedulian dan dukungan bagi keluarga peserta. 📝 Ketentuan Pendaftaran Adapun syarat untuk mengikuti Program Khitan Massal RSIY PDHI Peduli 2025 adalah: Usia minimal 5 tahun Mengisi formulir pendaftaran Sehat jasmani dan rohani Melampirkan fotokopi Kartu Keluarga 📆 Pendaftaran dibuka mulai 9–18 Desember 2025 melalui tautan berikut:👉 https://bit.ly/khitanrsiy2025 Pendaftaran dapat ditutup lebih awal apabila kuota telah terpenuhi. Oleh karena itu, Sahabat Peduli diimbau untuk segera mendaftarkan putra tercinta. 📍 Sekretariat Pelayanan Masjid Ar Rahman Poespodihardjo (UGD RS Islam Yogyakarta PDHI)Jl. Solo Km 12,5 Kalasan, Sleman, Yogyakarta 📱 Informasi & Konfirmasi:wa.me/628979707700 (Office) 🌐 Ikuti Aktivitas Kami Instagram: @rsiypdhipeduli Facebook: RSIY PDHI Peduli YouTube: RSIY PDHI Peduli TikTok: RSIY PDHI Peduli Website: peduli.rsiypdhi.com Dengan penuh rasa syukur, kami berharap Program Khitan Massal RSIY PDHI Peduli 2025 dapat memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat dan menjadi amal kebaikan yang terus mengalir. Semoga putra-putra Sahabat Peduli tumbuh menjadi generasi yang sehat, tangguh, dan berakhlak mulia. Sampai bertemu pada pelaksanaan Khitan Massal RSIY PDHI Peduli 2025 🌿
Masjid Jogokariyan: Masjid Kampung yang Menjadi Ikon Nasional
Masjid Jogokariyan adalah contoh nyata bagaimana sebuah masjid kampung dapat tumbuh menjadi pusat peradaban umat yang hidup, relevan, dan berdampak luas. Terletak di jantung Kampung Jogokariyan, Kota Yogyakarta, masjid ini tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi, budaya, dan edukasi yang menginspirasi banyak masjid lain di Indonesia. Artikel ini membahas secara lengkap dan komprehensif Masjid Jogokariyan: mulai dari sejarah berdirinya, filosofi pengelolaan, manajemen inovatif dan digital, program sosial‑ekonomi seperti ATM Beras dan pemberdayaan UMKM, tradisi besar Ramadan melalui Kampoeng Ramadhan Jogokariyan, dampaknya bagi masyarakat lokal, hingga perannya sebagai destinasi wisata religi. Sejarah Masjid Jogokariyan: Dari Langgar Kampung ke Masjid Percontohan Masjid Jogokariyan berdiri dari semangat warga Kampung Jogokariyan untuk memiliki pusat ibadah yang bukan hanya tempat salat, tetapi juga menjadi pengikat kehidupan sosial masyarakat. Awalnya, masjid ini merupakan langgar sederhana yang dibangun secara gotong royong oleh warga kampung pada pertengahan dekade 1960‑an. Seiring waktu, masjid ini resmi berdiri sebagai Masjid Jogokariyan dan terus mengalami perkembangan fisik maupun fungsi. Sejak awal, masjid ini memang tidak diposisikan sebagai bangunan elitis, melainkan sebagai “masjid kampung” yang benar‑benar menyatu dengan denyut kehidupan warganya. Filosofi inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat bagi seluruh konsep pengelolaan Masjid Jogokariyan hingga hari ini. Filosofi Dasar: Masjid Milik Jamaah Salah satu prinsip paling terkenal dari Masjid Jogokariyan adalah pernyataan bahwa masjid adalah milik jamaah, bukan milik takmir. Artinya, seluruh kebijakan, program, dan arah pengembangan masjid harus berangkat dari kebutuhan riil masyarakat sekitar. Takmir Masjid Jogokariyan memosisikan diri bukan sebagai penguasa masjid, melainkan sebagai pelayan jamaah. Masjid harus hadir untuk menjawab persoalan umat: mulai dari urusan ibadah, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan sosial sehari‑hari. Prinsip inilah yang membuat Masjid Jogokariyan sangat aktif, terbuka, dan adaptif terhadap perubahan zaman. Manajemen Inovatif dan Digital Masjid Jogokariyan Pendataan Jamaah Berbasis Wilayah Salah satu inovasi manajemen Masjid Jogokariyan yang paling sering dibahas adalah pendataan jamaah secara detail. Masjid ini memetakan seluruh rumah di wilayah Jogokariyan, mengetahui siapa yang sudah rutin salat berjamaah, siapa yang jarang ke masjid, bahkan siapa yang belum tersentuh dakwah. Pendekatan ini bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai dasar perencanaan program. Dengan data yang jelas, masjid bisa menyusun kegiatan yang tepat sasaran, baik dalam dakwah, bantuan sosial, maupun pemberdayaan ekonomi. Transparansi Keuangan Total Masjid Jogokariyan dikenal dengan prinsip saldo infak nol rupiah. Artinya, dana infak yang masuk diupayakan habis untuk kemaslahatan umat, bukan ditimbun. Setiap pemasukan dan pengeluaran diumumkan secara terbuka kepada jamaah, baik melalui papan pengumuman, media digital, maupun laporan rutin. Transparansi ini membangun kepercayaan tinggi jamaah terhadap pengelolaan masjid. Pemanfaatan Teknologi Digital Dalam era digital, Masjid Jogokariyan juga aktif memanfaatkan media sosial, website resmi, dan kanal digital lain untuk: Menyebarkan informasi kegiatan Edukasi keislaman Laporan program dan keuangan Dakwah yang menjangkau generasi muda Pendekatan digital ini membuat masjid tetap relevan dan mudah diakses oleh berbagai kalangan. Baca juga: Masjid dan anak muda program yang membuat remaja betah ke masjid Program Sosial‑Ekonomi Unggulan ATM Beras: Simbol Kepedulian Nyata ATM Beras Masjid Jogokariyan menjadi salah satu ikon program sosial masjid. Program ini memungkinkan warga kurang mampu mengambil beras sesuai kebutuhan dengan sistem yang teratur dan bermartabat. Konsepnya sederhana namun kuat: masjid hadir untuk menjamin kebutuhan dasar jamaahnya. Program ini tidak hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga menjaga harga diri penerima manfaat. Pemberdayaan UMKM Jamaah Masjid Jogokariyan juga aktif mendorong kemandirian ekonomi jamaah melalui: Pelibatan UMKM lokal dalam kegiatan masjid Penyediaan ruang usaha saat event besar Edukasi kewirausahaan dan manajemen usaha Saat Ramadan atau acara besar, pelaku UMKM kampung mendapat prioritas untuk berjualan, sehingga roda ekonomi lokal bergerak. Bantuan Pendidikan dan Kesehatan Masjid turut membantu biaya pendidikan anak‑anak jamaah yang membutuhkan, serta memfasilitasi layanan kesehatan gratis atau bersubsidi. Semua program ini dirancang berdasarkan data jamaah yang telah dipetakan sebelumnya. Kampoeng Ramadhan Jogokariyan: Tradisi Besar yang Mendunia Setiap bulan Ramadan, Masjid Jogokariyan berubah menjadi pusat aktivitas umat melalui Kampoeng Ramadhan Jogokariyan (KRJ). Kegiatan ini telah menjadi magnet besar, tidak hanya bagi warga Jogja, tetapi juga jamaah dari luar daerah. Ribuan Porsi Buka Puasa Gratis Setiap hari selama Ramadan, Masjid Jogokariyan menyediakan ribuan porsi makanan berbuka puasa gratis. Menariknya, menu disajikan secara layak, bergizi, dan berganti setiap hari. Pasar Ramadan yang Tertata Kampoeng Ramadhan juga menghadirkan pasar rakyat dengan ratusan pedagang, mayoritas adalah UMKM lokal. Pengelolaan dilakukan dengan tertib, bersih, dan teratur sehingga tetap nyaman bagi jamaah. Pusat Dakwah dan Silaturahmi Selain kuliner, KRJ menjadi ajang dakwah, kajian Islam, diskusi kebangsaan, hingga temu komunitas. Masjid benar‑benar hidup dari pagi hingga malam. Dampak Nyata bagi Masyarakat Lokal Keberadaan Masjid Jogokariyan memberikan dampak besar bagi Kampung Jogokariyan, antara lain: Penguatan solidaritas sosial antarwarga Penurunan angka kemiskinan lokal melalui bantuan dan pemberdayaan Masjid sebagai pusat aktivitas pemuda Lingkungan kampung yang religius namun inklusif Masjid tidak berdiri di atas masyarakat, melainkan tumbuh bersama masyarakat. Fasilitas Masjid dan Peran Wisata Religi Masjid Jogokariyan menyediakan berbagai fasilitas penunjang, seperti: Ruang ibadah nyaman dan bersih Penginapan syariah untuk musafir Aula dan ruang pertemuan Perpustakaan dan ruang belajar Dengan konsep keterbukaan, masjid ini juga menjadi destinasi wisata religi. Banyak pengunjung datang untuk belajar manajemen masjid, studi banding, maupun sekadar merasakan atmosfer ibadah yang hangat. Inspirasi Nasional: Masjid sebagai Pusat Peradaban Masjid Jogokariyan sering dijadikan rujukan oleh takmir masjid dari berbagai daerah di Indonesia. Konsep masjid yang aktif, transparan, dan berpihak pada jamaah dianggap relevan dengan tantangan umat saat ini. Masjid ini membuktikan bahwa masjid bukan hanya tempat ritual, tetapi juga pusat solusi. Penutup Masjid Jogokariyan adalah contoh hidup bagaimana masjid dapat berfungsi secara utuh: sebagai tempat ibadah, pusat sosial, motor ekonomi, ruang edukasi, dan simpul kebudayaan umat. Berangkat dari kampung kecil di Yogyakarta, Masjid Jogokariyan kini menjadi ikon nasional dan inspirasi bagi ribuan masjid lain di Indonesia. Lebih dari sekadar bangunan megah, kekuatan Masjid Jogokariyan terletak pada manajemen yang amanah, keberpihakan pada jamaah, serta keberanian untuk terus berinovasi demi kemaslahatan umat.
Pangastho Aji: Menyusuri Warisan Intelektual dan Kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar pameran budaya berskala besar bertajuk “Pangastho Aji: Laku Sultan Kedelapan”. Pameran ini mengangkat sosok Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, raja kedelapan Yogyakarta yang dikenal memiliki pemikiran progresif dan kontribusi besar dalam bidang seni, budaya, serta pembangunan sosial pada awal abad ke-20. Pameran Pangastho Aji resmi dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada Jumat malam, 26 September 2025. Masyarakat umum dapat mengunjunginya mulai 27 September 2025 hingga 24 Januari 2026, mengikuti jam operasional wisata Keraton Yogyakarta. Seluruh rangkaian pameran digelar di Kagungan Dalem Pagelaran. Nama Pangastho Aji berasal dari kata pengastha-astha yang berarti penguasa kedelapan dan aji yang bermakna ratu atau tunggal. Penamaan ini merepresentasikan posisi Sri Sultan HB VIII sebagai pemimpin yang memiliki peran istimewa dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta. Baca juga: Blangkon jogja kekayaan budaya dan filosofi di balik penutup kepala tradisional Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya, GKR Bendara, menjelaskan bahwa Sri Sultan HB VIII dipilih karena masa pemerintahannya yang panjang dan produktivitas karyanya yang luar biasa. “Karya beliau sangat banyak, sehingga tidak semuanya dapat ditampilkan dalam satu ruang pamer,” ujarnya. Oleh karena itu, pameran ini menyoroti kontribusi Sultan HB VIII terutama di bidang seni tari dan sastra, tanpa mengesampingkan aspek arsitektur, busana, dan pendidikan budaya. Sejarah dalam Sentuhan Modern Pameran Pangastho Aji dikemas dengan pendekatan kuratorial modern dan teknologi interaktif. Di ruang pembuka, pengunjung disambut video imersif yang menampilkan arsip-arsip visual dari era Sri Sultan HB VIII, mulai dari artikel berbahasa Belanda, dokumentasi penobatan, hingga pertunjukan wayang orang. Instalasi visual berupa animasi gajah dan naga turut memperkuat suasana historis, keduanya menjadi simbol angka delapan dalam sengkalan. Ruang berikutnya menyajikan linimasa perjalanan hidup Sri Sultan HB VIII, mulai dari masa kecil, pendidikan di Belanda, kenaikan takhta, hingga akhir hayatnya. Berbagai artefak kebangsawanan seperti singgasana dan perangkat minum teh berlogo resmi Kesultanan turut dipamerkan. Kiprah Sultan di Dunia Seni dan Budaya Kecintaan Sri Sultan HB VIII terhadap seni menjadi salah satu fokus utama pameran. Salah satu artefak yang menarik perhatian adalah potret diri beliau karya pelukis ternama Jayeng Asmara, pendiri Akademi Seni Rupa Indonesia, dengan ukuran skala 1:1. Selain itu, ditampilkan pula representasi karya arsitektural Sultan HB VIII, seperti Regol Brajanala, Regol Danapratapa, Gedhong Jene, dan Bangsal Manis. Perhatian Sultan HB VIII terhadap busana juga ditampilkan melalui arsip foto-foto yang menunjukkan gaya berpakaian beliau yang memadukan unsur Barat dan Jawa. Dalam berbagai kesempatan, jas dan dasi ala Eropa dipadukan dengan iket, sumping, dan aksesori tradisional Jawa, mencerminkan akulturasi budaya yang progresif. Dalam seni tari, Sultan HB VIII dikenal sebagai reformator. Ia menyingkat durasi pertunjukan tari agar lebih komunikatif sebagai hiburan, serta memperbarui kostum dan topeng sesuai karakter tokoh. Topeng-topeng tari yang merepresentasikan kreativitas beliau dipamerkan, dilengkapi dokumentasi visual dari abad ke-20. Kontribusi Sultan HB VIII dalam pendidikan seni ditunjukkan melalui pendirian Krida Beksa Wirama, sekolah tari keraton tertua, serta Habirandha, sekolah pedalangan dan karawitan. Informasi mengenai kedua lembaga ini disajikan melalui instalasi audio interaktif. Pertunjukan Wayang Wong dan Respons Pengunjung Sebagai bagian dari pembukaan pameran, Keraton Yogyakarta menggelar pertunjukan Wayang Wong selama tiga hari berturut-turut, yakni 26–28 September 2025, dengan lakon Parta Krama, Srikandhi Maguru Manah, dan Sembadra Larung. Setiap lakon dipilih untuk memperkuat narasi kepemimpinan dan spiritualitas Sri Sultan HB VIII. Respons pengunjung terhadap pameran ini pun positif. Banyak yang mengapresiasi penataan ruang yang rapi, narasi yang runtut, serta kenyamanan ruang pamer. Pameran Pangastho Aji diharapkan menjadi ruang edukasi sekaligus refleksi tentang makna kepemimpinan yang berakar pada pelayanan, sebagaimana pesan Sri Sultan HB VIII yang terpampang di ruang pamer: “Seorang pemimpin belum bisa dikatakan memimpin sampai dia meletakkan pelayanan dalam kepemimpinannya.” Melalui Pangastho Aji, Keraton Yogyakarta mengajak publik menengok kembali sosok pemimpin visioner yang menjadikan seni, budaya, dan pelayanan sebagai fondasi utama kemajuan peradaban Yogyakarta. sumber
Gerabah Kasongan: Warisan Tanah, Keterampilan, dan Transformasi Ekonomi
Di selatan Kota Yogyakarta, tepatnya di wilayah Bantul, terdapat sebuah desa yang namanya hampir selalu muncul ketika orang berbicara soal kerajinan tanah liat: Kasongan. Gerabah Kasongan bukan sekadar produk kerajinan — ia adalah cerminan adaptasi budaya, kreativitas, dan kemampuan komunitas untuk mempertahankan tradisi sambil merespons dinamika pasar modern. Artikel ini menguraikan asal-usul, bahan dan teknik, ragam produk, ekosistem produksi, tantangan, serta arah perkembangan gerabah Kasongan secara komprehensif. Sejarah singkat dan proses kemunculan sentra Tradisi pembuatan gerabah di Kasongan berakar dari aktivitas pertanian dan pemanfaatan sumber daya lokal; temuan tanah liat yang cocok menjadi titik tolak perkembangan keterampilan ini. Sejak masa kolonial, kegiatan gerabah sudah ada sebagai kebutuhan rumah tangga — periuk, kendi, wadah penyimpanan — namun baru berkembang menjadi industri terspesialisasi dan sentra kerajinan setelah pengrajin lokal mulai mengembangkan bentuk dan teknik yang lebih artistik. Peralihan dari barang fungsional menjadi kerajinan hias dipercepat oleh interaksi dengan pasar pariwisata dan program pembinaan, sehingga Kasongan dikenal luas sebagai desa wisata keramik. Bahan baku: dari tanah liat lokal hingga impor Kualitas gerabah sangat bergantung pada tanah liat. Pengrajin Kasongan kerap menggunakan tanah liat lokal yang dicampur dengan pasir halus untuk mendapatkan tekstur yang cocok — namun untuk memenuhi kebutuhan tertentu, material juga bisa datang dari luar daerah yang kaya tanah liat, seperti daerah Tulungagung dan Blitar. Komposisi tanah liat, kadar air, dan proses pengolahan awal (pembersihan, penggilingan, pencampuran) menentukan warna, ketahanan, dan karakter akhir gerabah. Selain itu, untuk produk yang membutuhkan warna atau kilap tertentu, digunakan glasir modern dan aditif lain yang memperluas ragam estetika produk. Teknik pembuatan: turun-temurun bertemu inovasi Proses pembuatan gerabah di Kasongan menggabungkan teknik tradisional dan metode yang lebih modern. Tahap dasar meliputi pemilihan dan persiapan tanah liat, pembentukan (dengan teknik pijit/hand-building atau roda putar), pengeringan alami, pembakaran, dan finishing (pembubuhan glasir atau polesan). Teknik pijit—membentuk langsung dengan tangan—masih lazim untuk patung dan bentuk-bentuk unik; sedangkan roda (tromol) digunakan untuk menghasilkan benda silindris seperti pot dan kendi dengan presisi. Pembakaran tradisional menggunakan tungku lokal, namun beberapa bengkel kini memakai kiln modern untuk kontrol suhu yang lebih baik dan kualitas hasil yang konsisten. Perpaduan teknik ini memungkinkan produksi skala rumahan sekaligus pemesanan komersial. Ragam produk: dari utilitas ke estetika Awalnya produk Kasongan bersifat utilitarian—periuk, kendi, wadah air—namun seiring waktu muncul diversifikasi besar-besaran. Kini pasar menawarkan: pot bunga, vas dekoratif, arca dan figura, lampu taman, air mancur dari tanah liat, miniatur cendera mata, hingga karya seni berskala besar untuk interior dan taman. Sentuhan motif tradisional maupun kontemporer (abstrak, motif etnik, bahkan reproduksi pola modern) menambah daya jual. Beberapa pengrajin fokus pada produksi massal untuk memenuhi permintaan retail, sementara yang lain memilih jalur seni dan konsep unik yang disasar ke galeri dan kolektor. Ekonomi lokal dan peran pariwisata Gerabah Kasongan telah menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Selain menyediakan lapangan kerja bagi banyak keluarga di desa, kerajinan ini merangsang sektor lain: toko bahan baku, penyedia kiln, jasa desain, hingga homestay dan kafe yang menyambut wisatawan. Desa Kasongan juga berkembang sebagai desa wisata—pengunjung bisa melihat proses pembuatan, berbelanja langsung dari pembuat, atau mengikuti workshop singkat. Aktivitas pariwisata ini memperbesar penerimaan daerah sekaligus memicu inovasi produk yang cocok untuk pasar suvenir. Ekspor produk gerabah Kasongan pun pernah terbuka ke sejumlah negara, membuat pengrajin harus menyesuaikan standar kualitas dan paket pengiriman. Organisasi pengrajin, pendidikan, dan fasilitas pendukung Dukungan lembaga—baik perguruan tinggi seni, pemerintah daerah, maupun organisasi non-pemerintah—berperan penting dalam transformasi Kasongan. Penelitian akademis dan program pelatihan mendorong peningkatan desain, teknik pembakaran, serta manajemen usaha. Muncul pula galeri atau museum kecil yang memamerkan karya keramik sebagai upaya pelestarian sekaligus edukasi publik. Inisiatif semacam ini membantu mentransfer pengetahuan antar generasi dan membuka akses pasar yang lebih luas. Tantangan yang dihadapi pengrajin Meskipun berprestasi, pengrajin Kasongan menghadapi sejumlah tantangan. Harga bahan baku yang fluktuatif, persaingan produk impor, tekanan untuk memenuhi pesanan massal tanpa mengorbankan kualitas, serta isu kesehatan kerja (paparan debu tanah liat dan asap pembakaran) menjadi perhatian. Selain itu, perubahan selera pasar mengharuskan pengrajin berinovasi—baik dari segi desain maupun pemanfaatan teknologi—tanpa kehilangan jejak tradisi. Ketersediaan air dan lahan juga menjadi faktor penting mengingat beberapa proses memerlukan air bersih dan ruang pengeringan. Baca juga: Blangkon jogja kekayaan budaya dan filosofi di balik penutup kepala tradisional Peluang: inovasi desain, kerjasama, dan pasar baru Peluang Kasongan tetap besar. Permintaan pasar interior rumahan, taman, dan desain lanskap membuka ruang bagi produk keramik berkualitas. Kolaborasi antara desainer kontemporer dan pengrajin tradisional menghasilkan koleksi yang menghimpun nilai estetika dan keautentikan lokal—produk semacam ini berpotensi masuk segmen premium dan pasar ekspor. Selain itu, pengembangan paket wisata edukatif (workshop membuat keramik) memperkuat daya tarik turis yang mencari pengalaman budaya otentik. Penerapan praktik produksi yang lebih aman dan ramah lingkungan juga dapat menjadi nilai jual tambahan di pasar global yang kian sensitif terhadap isu keberlanjutan. Merawat warisan tanpa mengikat kreatifitas Kunci keberlanjutan gerabah Kasongan adalah menjaga keseimbangan: melestarikan teknik dan nilai budaya yang melekat, sambil memberi ruang bagi inovasi dan akses pasar modern. Program pembinaan, penguatan koperasi pengrajin, kebijakan lokal yang mendukung infrastruktur, serta promosi yang cerdas—menggunakan platform digital dan pameran internasional—dapat mengokohkan posisi Kasongan sebagai pusat keramik yang relevan di abad ini. Gerabah Kasongan bukan hanya benda dari tanah; ia adalah narasi kehidupan komunitas yang menautkan masa lalu dan masa kini, estetika dan fungsi, lokal dan global. Melihat sebuah vas atau lampu terbuat dari tanah liat Kasongan bukan sekadar memandang kerajinan — melainkan menyentuh fragmen budaya yang terus hidup karena ketekunan pengrajin, dukungan komunitas, dan kemampuan beradaptasi terhadap zaman.
Festival Of Nggambleh 2025
Pertemuan 40 Komika Jogja Lintas Generasi dalam Satu Panggung Akhir Tahun** Dari sebuah ruang kecil penuh tawa di berbagai sudut Yogyakarta, “Freedom Of Nggambleh (FON)” tumbuh menjadi salah satu panggung komedi paling ditunggu setiap akhir tahun. Ajang kumpul komika, ajang nostalgia, ajang adu karya. Kini, di tahun 2025, gaung FON semakin besar, melebar, dan naik kelas menjadi sebuah festival yang benar-benar merayakan energi komedi Jogja: Festival Of Nggambleh 2025. Festival ini bukan sekadar panggung stand-up biasa. Ia adalah rumah bagi puluhan komika lintas generasi, perayaan kreativitas, sekaligus penegasan bahwa Yogyakarta masih menjadi salah satu kota dengan denyut komedi paling hidup di Indonesia. Tahun ini, festival datang dengan tema yang cukup menggugah: Absolute Cinema. Sebuah tajuk yang menggambarkan ambisi, kualitas visual panggung, serta kehadiran para komika yang sudah melangkah lebih jauh dari panggung kecil: mereka yang kini telah menjadi bagian dari layar lebar Indonesia. Tema “Absolute Cinema”: Ketika Komedi Naik Level Tema Absolute Cinema tidak sekadar gimmick. Ia merepresentasikan transformasi: dari sebuah komunitas stand-up yang dulu tampil di kafe dan ruang sederhana, menjadi panggung besar yang menyatukan 40 komika ternama Yogyakarta dalam format pertunjukan yang lebih sinematik. Sebagian dari mereka adalah alumni Standupindo Jogja yang kini wara-wiri di film Indonesia—baik sebagai aktor, cameo, penulis, maupun pengisi konten kreatif di balik layar. Kehadiran mereka membawa nuansa baru: bahwa komedi Yogyakarta bukan hanya tumbuh di panggung, tetapi juga di layar bioskop. Sementara itu, komika lain yang tampil membawa “absolute cinema” dalam bentuk berbeda: performa, delivery, persona panggung, dan kualitas materi yang merepresentasikan perjalanan panjang mereka sebagai komedian. Dari yang senior hingga generasi baru yang lagi naik daun, semuanya hadir dalam satu festival yang sama. Festival yang Menyatukan Semua Generasi Salah satu daya tarik utama Festival Of Nggambleh 2025 adalah keberaniannya mempertemukan lintas generasi. Kita berbicara tentang: komika yang memulai karier saat stand-up masih asing di Jogja, komika era komunitas yang tumbuh pesat sekitar 2015–2018, hingga wajah-wajah baru dari gelombang pasca-pandemi yang datang dengan energi segar. Pertemuan 40 komika dalam satu festival bukan hanya menyajikan ragam gaya komedi, tetapi juga menghadirkan nostalgia bagi penonton lama dan pengalaman baru bagi penonton baru. Ada yang absurd, ada yang observational, dark, storytelling, bahkan komika dengan gaya ultra-karakteristik yang sudah melegenda di Jogja. Dengan keberagaman ini, Festival Of Nggambleh 2025 akan menjadi salah satu pertunjukan komedi paling padat, paling variatif, dan paling identitas Jogja. Baca juga: Dodolanan 2025 hadir di jogja Diselenggarakan oleh Standupindo Jogja Sebagai salah satu komunitas stand-up comedy terbesar dan tertua di Indonesia, Standupindo Jogja tidak hanya memiliki sejarah panjang, tetapi juga reputasi kuat dalam melahirkan talenta berkelas nasional. Dari panggung-panggung kecil hingga panggung festival, Standupindo Jogja selalu menjadi titik temu para komika yang ingin bertumbuh. Dengan dukungan tim internal yang berpengalaman dalam eksekusi acara besar, festival ini disiapkan secara matang: mulai dari susunan run-down, layout venue, tata cahaya, performa panggung, hingga format penampilan yang dirancang agar memberi pengalaman sinematik sesuai tema tahun ini. Pengalaman Festival yang Lebih Terorganisir Selain fokus pada penampilan komika, festival ini juga membawa standar baru dalam penyelenggaraan. Area venue dirancang untuk mampu menampung aliran penonton yang lebih padat, termasuk zona gate, booth UMKM, area makanan & minuman, serta flow masuk–keluar yang lebih rapi. Registrasi tiket dilayani mulai pukul 11:00 – 19:00 WIB, sementara area utama dibuka pukul 12:30 – 19:00 WIB. Dengan sistem First Come, First Serve, penonton dianjurkan datang lebih awal untuk mendapatkan tempat duduk terbaik. Ini juga sekaligus memberi kesempatan menikmati area festival sebelum acara puncak dimulai. Kenyamanan & Keamanan: Prioritas Festival Untuk memastikan acara berjalan kondusif dan ramah penonton, sejumlah peraturan diberlakukan. Mulai dari larangan membawa senjata tajam, alkohol, obat-obatan terlarang, hingga ketentuan pembatasan usia: anak di bawah 17 tahun tidak diperkenankan masuk area pertunjukan. Pihak penyelenggara juga mengatur ketentuan dokumentasi. Foto diperbolehkan, video pendek tanpa suara masih diperbolehkan, namun perekaman penuh dilarang untuk menjaga kualitas dan eksklusivitas pertunjukan tiap komika. Di area venue tersedia booth makanan dan minuman, jadi pengunjung disarankan menyiapkan dana tambahan—baik tunai maupun elektronik—untuk menikmati pengalaman festival secara maksimal. Syarat dan Ketentuan Tiket Untuk menjaga kenyamanan dan keteraturan festival, beberapa poin penting telah ditetapkan: Tiket hanya dapat di-refund jika terjadi perubahan jadwal atau pembatalan oleh penyelenggara. Pembeli wajib mengisi data diri secara lengkap. Penjualan tiket dapat dihentikan atau dibuka kembali sesuai kebijakan Standupindo Jogja. Tidak ada tanggung jawab atas kehilangan e-voucher atau tiket elektronik. Tidak ada pengembalian dana bagi penonton yang melanggar aturan selama acara. Penyelenggara tidak bertanggung jawab atas transaksi tiket yang dilakukan di luar platform resmi YESPLIS.COM. Aturan-aturan ini dibuat untuk memastikan seluruh proses, dari pembelian tiket hingga pelaksanaan acara, berjalan tertib dan aman bagi semua pihak. Sebuah Festival yang Merayakan Identitas Jogja Festival Of Nggambleh bukan hanya acara komedi—ia adalah perayaan ekosistem kreatif Jogja. Kota yang akrab dengan seniman, komunitas, dan ruang-ruang berekspresi ini memiliki napas humor yang kuat. Nggambleh hadir sebagai wadah untuk menjaga napas itu tetap menyala. Dengan tema Absolute Cinema, festival ini memberi panggung bagi komika untuk tampil lebih besar, lebih matang, lebih sinematik. Penonton pun berkesempatan menikmati pertunjukan komedi yang tidak hanya lucu, tetapi juga dipoles secara artistik untuk meninggalkan kesan visual dan atmosfer yang lebih megah. Kesimpulan Festival Of Nggambleh 2025 adalah evolusi dari sebuah tradisi tahunan yang tumbuh bersama komunitas. Dengan menghadirkan 40 komika lintas generasi, tema Absolute Cinema, dan penyelenggaraan yang lebih modern, festival ini siap menjadi penutup tahun yang spektakuler untuk penikmat stand-up di Yogyakarta.